KERESAHAN ANAK BANGSA

February 13th, 2009 by euchan-uchan

(sebuah refleksi akan realitas kekinian Bangsa Indonesia)

Sebuah komunitas terorganisir (baca: bangsa) dapat menjadi besar bahkan melakukan pengembangan untuk menjadi besar, tidak hanya mengandalkan intelektual anggota komunitasnya (baca: rakyat) dalam wujud penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), tetapi lebih dari itu, harus ada budaya terstruktur yang dapat mengatur interaksi sosial dalam komunitas dimaksud. Pembatasan-pembatasan sebagai bentuk budaya ini dapat berupa norma-norma, baik yang tidak tertulis sampai pada aturan-aturan legal berupa Undang-undang. Budaya ini juga yang akan menopang dan mendukung bahkan membatasi anggota komunitas untuk sadar akan keberadaan dirinya sebagai makluk sosial, yang tidak akan mampu hidup tanpa orang lain. Dan lebih dari itu setiap anggota komunitas juga sadar bahwa hidupnya harus bermanfaat (baca: menjadi berkat) bagi sesamanya atau orang lain disekitarnya. Sehingga secara sadar individu-individu ini akan saling bersinergi dalam upaya meningkatkan kapasitas dirinya (Penguasaan IPTEK), sekaligus memberi manfaat bagi sesamanya (menata-layani)

Berbicara mengenai Budaya? Budaya kita pahami sebagai hasil cipta karya dan karsa manusia. Dalam penciptaan karya dan karsa manusia (secara bersama-sama), tentunya tidak hanya didasarkan pada nilai-nilai kemerdekaan individu semata, tetapi juga didasarkan pada harapan-harapan bersama, dengan tujuan dapat terbentuknya sebuah tatanan hidup bersama yang lebih baik (harmonis, berkeadilan, kesejahteraan, demokratis dan lain-lain).

Mencermati akan realitas pergumululan Bangsa Indonesia sampai hari ini, tentunya membangkitkan keresahan dalam diri anak bangsa yang masih merindukan keharmonisan, keadilan, kedamaian, kesejahteraan dan demokrasi. Untuk itu, kita perlu saling mengingatkan antara sesama anak bangsa yang harus bertanggung jawab terhadap nasib Bangsa Indonesia. Jika dipilah, jelas bahwa kita telah terstruktur dan terbagi dalam peran dan tanggung jawab yang berbeda-beda sebagai anak bangsa. Mulai dari mereka yang diberkati dan mendapat peran sebagai Pemerintah (Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif) dari tingkat Pusat sampai Daerah, kelompok pengontrol sosial seperti Lembaga Keumatan, Partai Politik, Kelompok Profesi (Seni, Olah Raga, Jurnalis dan lain-lain), Organisasi Kemayarakatan Pemuda (OKP) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Pada kelompok lain ada rakyat sebagai subjek sekaligus pelaku utama dalam pembangunan bangsa.

Dikalangan rakyat sendiri, terbagi lagi dalam banyak kelompok, ada kelompok orang tua, orang tua yang berpekerjaan dan ada yang tidak berpekerjaan, ada kelompok orang muda, orang muda yang berpendidikan dan tidak berpendidikan, orang muda yang berpekerjaan dan tidak berpekerjaan (pengangguran), dan kelompok anak-anak, pada kelompok anak, ada yang berpendidikan dan yang tidak berpendidikan. Bahkan bila dipilah lebih jauh akan ada banyak sekali pengelompokan dibangsa ini. Dan masing-masing kelompok maupun individu dalam kelompok dimaksud memiliki peran dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam mendinamikai bangsa ini. Mulai dari dinamika positif yang berdampak konstruktif sampai pada dinamika negatif yang berdampak destruktif, sebagai wujud dinamika sosial bangsa.

Harus diingat bahwa, sekecil apapun peran dari individu sebagai wujud dinamika individu akan berpengaruh terhadap pembentukan dinamika dalam komunitas sosial dimana individu itu berada (baik yang positif maupun yang negatif), dan kumpulan dinamika yang posisitif maupun negatif dari sebuah komunitas sosial yang kecil akan membentuk dinamika komunitas yang lebih besar termasuk Bangsa. Dalam argumentasi inilah, sebagai individu anak bangsa maupun komunitas-komunitas anak bangsa harus sadar betul bahwa nasib bangsa ini berada ditangannya. Pertanyaan refleksinya adalah Apakah yang telah dan akan dibuat oleh anak bangsa yang sadar akan pentingnya perbaikan nasib bangsa? Sudahkah dibangun dinamika yang konstruktif dalam dinamika sosial kemasyarakatan kita? Apakah sudah banyak? Masih sedikit? Atau belum sama sekali? Atau bahkan yang telah dibuat adalah dinamika yang destruktif?

Sadarlah kawan…..! (Pemerintah, Lembaga Keumatan, Partai Politik, Kelompok Profesi, OKP, LSM dan seluruh rakyat Indonesia). Kita adalah anak dari bangsa yang besar dan berbudaya, untuk itu perlu ada hal positif yang kita buat bersama bagi kemajuan bangsa kita, sesuai dengan potensi dan kapasitas yang kita miliki, baik secara individu maupun secara kelembagaan (catatan: mereka yang terpilih untuk mengisi struktur kelembagaan adalah mereka yang diberkati oleh Tuhan). Belum ada kata terlambat, untuk menunjukan eksistensi diri dalam negara yang sementara dalam keterpurukan karena diliputi oleh Krisis Multi dimensi pada satu sisi dan Bencana Alam serta Bencana Kemanusiaan – yang terjadi akhir-akhir ini – pada sisi yang berbeda, yang tidak hanya mengakibatkan kerugian material, tetapi juga harus dibayar dengan nyawa manusia-manusia tak berdosa yang menjadi harapan keluarga bahkan sesamanya.

Realitas ini terlihat mulai dari Krisis Ekonomi yang tidak dapat diprediksi kapan berakhirnya, yang juga telah merambah pada bidang kehidupan lainnya seperti Politik, Hukum, Pendidikan bahkan sampai pada ruang Budaya dari bangsa yang kita banggakan bersama sebagai bangsa yang berbudaya. Upaya pencarian format demokrasi yang tak berkesudahan, sampai-sampai Indonesia mencapai record masa transisi terlama di dunia (lebih dari 8 tahun).

Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) sebagai budaya negatif yang seharusnya diredam bahkan tidak perlu ada sama sekali, pada kenyataannya sekarang tidak hanya menggejala sehingga menakutkan dan langkah yang harus diambil adalah antisipatif, tetapi telah mengemuka sebagai kebiasaan bahkan budaya bersama (layaknya sebuah budaya positif yang mendapat tempat di hati masyarakat), sehingga sangat sulit untuk diselesaikan – kalau tidak mau dikatakan tidak dapat diselesaikan sama sekali. Fenomena ini dapat dilihat dari upaya pemberantasan KKN yang dilakukan oleh Pemerintah dan Lembaga Pemerhati nasib dari bangsa yang puruk karena KKN, mulai dari membidani dan melahirkan payung hukum anti korusi (UU TIPIKOR) untuk memperluas ruang kewenangan Lembaga Peradilan Formal bagi penanganan kasus korupsi, pembentukan lembaga pengawasan pengelolaan keuangan negara oleh Pemerintah (BPK, KPK dan lain-lain), sampai pada hadirnya lembaga-lembaga pengontrol sebagai inisiatif masyarakat untuk memainkan fungsi kontrol sosialnya (Indonesian Corruption Wacth, Indonesian Transparancy, dan lain-lain).

Dunia Pendidikan kita.

Lembaga Pendidikan (baik formal maupun non formal) adalah tempat bagi anak bangsa untuk menimba ilmu pengetahuan dan menguasai teknologi, sekaligus sebagai tempat tranfer budaya. Hal ini dimaksudkan agar anak bangsa sebagai out-put dunia pendidikan selain dibekali oleh IPTEK, juga perlu dibekali dengan nilai-nilai budaya. Sehingga kelak akan terbentuk kaum intelektual yang berbudaya.

Intelektual yang berbudaya adalah intelektual yang sadar bahwa IPTEK yang diperolehnya selama masa pendidikan adalah sebuah konstruksi bersama dalam bingkai budaya, sehingga sebagai intelektual harus secara sadar dapat bermanfaat bagi orang lain, baik dibutuhkan maupun tidak. Atau dengan kata lain, IPTEK yang dimiliki harus dimanfaatkan bagi kemaslahatan bersama, bukan hadir sebagai intelektual yang egois dan memikirkan diri sendiri bahkan menyusahkan dan memusnahkan orang lain.

Sebagai bangsa yang menghargai karya sejarahwannya, kita belum bahkan tidak akan pernah lupa Pondasi Dunia Pendidikan Nasional Indonesia yang diletakan oleh Ki Hajar Dewantoro melalui Pendidikan Taman Sisiwanya. Dimana dengan kesadaran akan realitas bangsa yang baru hendak membangun (membangun bangsa butuh energi yang besar dan waktu yang panjang) dengan bermodalkan potensi dan kapasitas Sumber Daya Manusia yang sangat terbatas (mayoritas rakyat pada masa itu adalah miskin dan tidak berpendidikan), sehingga yang perlu menjadi muatan pembelajaran adalah selain Pengetahuan Umum (Pengetahuan Alam, Menghitung dan Bahasa) untuk mengasah dan membangun intelektual peserta didik, juga diperlukan adanya muatan Humaniora, yaitu berkaitan dengan Pendidikan Budi Pekertidan Pendidikan Moral sebagai bagian dari nilai-nilai budaya positif, agar out-put dari Pendidikan Taman Siswa adalah cerdas dan solider dengan sesamanya. Terutama bahu-membahu mengambil peran secara bertanggung jawab dalam mengisi proses pembangunan.

Pertanyaan selanjutnya bagi kita adalah Apakah out-put Pendidikan Indonesia saat ini dalam mengambil peran untuk mengisi kemerdekaan (peran pembangunan) masih sesuai dengan harapan yang diletakan oleh para founding fathers bangsa? yaitu saling solider dalam mengaplikasikan IPTEK yang dimiliki, sekaligus solider dengan sesama yang membutuhkan. Adakah?

Sebuah pertanyaan yang cukup dijawab dengan contoh dan tidak membutuhkan teori sama sekali. Jikalau kita melihat realitas Bangsa Indonesia saat ini, mulai dari sikut-menyikut antara sebagian Elit Politik dari Pusat sampai Daerah-daerah, sebagai bukti dari tidak ada lagi solidaritas kaum intelektual dalam membangun bangsa ini. Dimana energi dari kaum terdidik lebih besar dikeluarkan bagi sebuah upaya pencapaian nafsu kekuasaan, ketimbang energi untuk membangun dengan ketulusan hati. Selain itu, ada juga egoisme dan kesombongan intelektual dari sebagian kaum tertidik yang menyebabkan ketakutan, kesengsaraan bahkan kematian orang lain sebagai bukti dari tidak adanya solidaritas dengan sesama manusia. Hal ini terlihat dari saling teror, korupsi (merampas hak orang lain), bahkan ledakan bom yang merenggut nyawa manusia tak berdosa.

Lalu bagaimana dengan nasib dari, pertama: Anak bangsa yang menjadi korban bencana; yang kedua: Anak bangsa yang sulit dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidupnya, karena merosotnya mampuan daya beli terhadap kebutuhan pokoknya yang selalu mengalami kenaikan harga; ketiga: Anak bangsa yang menganggur karena terbatasnya lapangan pekerjaan; keempat: Anak bangsa yang sakit fisik dan mental; dan yang kelima: Anak bangsa yang sama sekali belum mengenyam pendidikan karena keterbatasan biaya. Apa yang harus dilakukan sebagai wujud solidaritas untuk mereka? Terutama PEMERINTAH yang sudah dipercayakan untuk mengatur semuanya.

Harus diingat bahwa kehidupan yang nyaman, hidup berkecukupan, hidup sehat dan berpendidikan adalah Hak Asasi, sehingga kita harus saling mengingatkan bahkan terus mendorong, agar upaya penanganan sekaligus penanggulangan bencana, pembangunan kesejahteraan rakyat, pelayanan kesehatan berbiaya rendah, bahkan gratis bagi rakyat kurang mampu, penciptaan lapangan kerja dan pendidikan gratis tetap menjadi komitmen pemerintah. Tentunya dengan pola manajemen terpadu yang efektif, sehingga dapat menyumbat kran-kran korupsi.

dikutip dari tulisan :

Oleh : Simson Fransisko Beli, S.Sos*

* Penulis adalah Sekretaris Fungsional Bidang Pendidikan Kader dan Kerohania Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia

zg Tau ……

November 10th, 2008 by euchan-uchan

Kegelisahan adalah hal yang ganjil sekali. Kita jadi tak berdaya dihadapannya. Seperti jendela yang membuka atas kemauannya sendiri. Ruangan menjadi dingin, dan kita tak bisa berbuat apapun kecuali gemetar kedinginan. Namun setiap kali terbuka kembali, lebarnya sedikit berkurang, makin lama makin sempit, dan pada suatu hari kita bertanya-tanya sendiri apa yang terjadi dengan jendela itu.

Kecerian bumi yang hilang menunjukkan betapa terbatasnya pikiran-pikiran manusia. Tiada satu pun diantara kita yang mau mengakuinya. Mungkin, karena kita memang manusia. Yah..karena kita hanyalah manusia.

Pohon-pohon akan melahirkan bunga-bunga. Bunga-bunga yang layu dan rontok diganti bunga-bunga yang mekar. Air tak pernah menunggu. Air selalu berubah bentuk dan mengalir mengitari benda-benda dan menemukan jalan-jalan rahasia yang tak pernah terpikirkan. Matahari dan bulan selalu berputar membagi waktu dan memberikan cahaya pada bumi.

Pengantar berisi gambaran umum NTT yang menjadi kebanggaan

Dahulu NTT dikenal dengan sebutan Flobamora atau miniatur Indonesia memiliki beraneka ragam adat dan budaya, kekayaan alam dan hasil panen yang berlimpah…

Perubahan zaman dan perubahan sosial

Lalu semuanya berubah… kini NTT makin dikenal luas tapi bukan dengan berbagai kelimpahannya namun dengan berbagai bencana yang melandanya. Kita seakan tak berdaya menghadapinya dan kita seakan tak bisa berbuat apapun kecuali gemetar kedinginan…

Kdrt pergaulan bebas pengrusakan lingkungan narkoba

Kita seperti kehilangan kebanggaan atas tanah tempat kelahiran kita. Kita kecewa, marah, sakit hati dan kadang kita harus menangis…

Merubah NTTcq kelahiran Jesus

Apa

Kelahiran Yesus sebagai jawaban

Yesus lahir karena Allah peduli berikanlah senyum uluran tangan kasih kepada sesama sambil memandang Dia yang telah lebih dahulu mengasihi kita

Kita dilahirkan untuk memberi kasih pada sesama kita. Kita juga dilahirkan bukan hanya untuk dapat merasakan bahagia tetapi juga sakit. Namun tuhan menciptakan senyum agar bisa mengobati luka itu.

Bagi banyak orang menanti atau menunggu adalah pekerjaan yang paling menjemukan sehingga sering dihindari. Namun bagi orang kristen menanti kehadiran Yesus adalah sesuatu yang sangat didambakan sehingga sering disertai dengan doa dan ucapan syukur yang tidak berkesudahan

tapi tuhan memberikan berjuta alasan untuk tetap tersenyum.

Teman & Sahabat….

September 30th, 2008 by euchan-uchan

Ada satu perbedaan antara menjadi seorang kenalan dan menjadi seorang sahabat. Pertama, seorang kenalan adalah seorang yang namanya k’mu ketahui, yang k’mu lihat berkali-kali, yang dengannya mungkin k’mu punya persamaan, dan yang didekatnya k’mu merasa nyaman.

Ia adalah orang yang dapat k’mu undang ke rumah k’mu dan dengannya k’mu berbagi. Namun mereka adalah orang yang dengannya tidak akan k’mu bagi hidupmu, yang tingkahnya kadang-kadang tidak k’mu mengerti karena k’mu tidak cukup tahu tentang mereka.

Sebaliknya, seorang sahabat adalah seseorang yang k’mu cintai.. Bukan karena k’mu jatuh cinta padanya, namun k’mu peduli akan orang itu, dan k’mu memikirkannya ketika mereka tidak ada.

Sahabat-sahabat adalah orang dimana k’mu diingatkan ketika k’mu melihat sesuatu yang mungkin mereka sukai, dan k’mu tahu itu karena k’mu mengenal mereka dengan baik.

Mereka adalah orang-orang yang fotonya k’mu miliki dan wajahnya selalu ada di kepala k’mu.

Mereka adalah orang-orang yang k’mu lihat dalam pikiran k’mu ketika k’mu mendengar sebuah lagu di radio karena mereka membuat diri k’mu berdiri untuk menghampiri mereka dan mengajak berdansa dengan mereka atau mungkin k’mu yang berdansa dengan mereka, mungkin mereka menginjak jari kaki k’mu, atau sekedar menempatkan kepala mereka di pundak k’mu.

Mereka adalah orang-orang yang bila sedang bersama k’mu merasa aman karena k’mu tahu mereka peduli terhadap k’mu.

Mereka menelpon hanya untuk mengetahui apa kabar k’mu, karena sahabat sesungguhnya tidak butuh suatu alasanpun.

Mereka berkata jujur-pertama kali - dan k’mu melakukan hal yang sama. k’mu tahu bahwa jika k’mu memiliki masalah, mereka akan bersedia mendengar.

Mereka adalah orang-orang yang tidak akan menertawakan k’mu atau menyakiti k’mu, dan jika mereka benar-benar menyakiti k’mu, mereka akan berusaha keras untuk memperbaikinya.

Mereka adalah orang-orang yang k’mu cintai dengan sadar ataupun tidak.

Mereka adalah orang-orang dengan siapa k’mu menangis ketika k’mu tidak diterima di perguruan tinggi dan selama lagu terakhir di pesta perpisahan kelas dan saat wisuda.

Mereka adalah orang-orang yang pada saat k’mu peluk, k’mu tak akan berpikir berapa lama memeluk dan siapa yang harus lebih dahulu mengakhiri.

Mungkin mereka adalah orang yang memegang cincin pernikahan k’mu, atau orang yang mengantarkan / mengiringi k’mu pada saat pernikahan k’mu, atau mungkin adalah orang yang k’mu nikahi.

*benar atau tidaknya…tergantung kalian yg pernah merasakannya

PSIKOLOGI DAN FILOSOFI HIDUP

June 27th, 2008 by euchan-uchan
Filosofy

Filosofi hidup hampir berkaitan dengan prinsip hidup. Semua orang yang masih eksis mempunyai pegangan hidup, tujuan hidup, prinsip hidup maupun filosofi hidup. Tentunya hal ini cukup berbeda di antara satu dengan lainnya dalam menyikapinya. Karena, setiap orang itu tidak sama, setiap orang itu unik, setiap orang merupakan mahluk individualisme yang membedakan satu dengan lainnya.

Ada yang mempunyai tujuan hidup yang begitu kuat, namun prinsip hidupnya lemah, atau sebaliknya ada orang yang mempunyai tujuan hidup yang lemah, namun memiliki prinsip hidup yang kuat. Ini tidaklah menjadi suatu permasalahan, yang penting seberapa baiknya seseorang menyambung hidupnya dengan berbagai persoalan dunia yang ada, atau dengan kata laiinya bagaimana kondisi psikologis/jiwa seseorang dalam menjalani hidupnya.

Prinsip hidup masih jauh kaitannya dengan psikologi, namun psikologi mau tau mau berhubungan langsung dengan prinsip hidup. Karena, dengan menijau prinsip hidup seseorang dapat diketahui kondisi jiwa seseorang. Prinsip hidup dan filosofi hidup sangat luas cakupannya, tidak hanya ditinjau dari segi psikologi, tapi seluruh cabang ilmu pengetahuan yang ada. Prinsip hidup seseorang dapat diambil dari perspektif psikologi, agama, seni, literatural, metafisika, filsafat dsb.

Bagi sebagian orang, filosofi hidup dapat dijadikan sebagai panutan hidup, agar seseorang dapat hidup dengan baik dan benar. Adapula sebagaian orang yang tidak menghiraukan apa itu tujuan hidup dan filosofi hidup, ia hanya hidup mengikuti arus yang mengalir dan sebagian orang lagi, terlalu kuat memegang tujuan hidup dan filosofi hidupnya sehingga membuat ia menjadi keras dan keras, Jadi, kesimpulannya ada 3 sifat manusia yang bisa ditinjau dari filosofi hidupnya, yaitu orang yang lemah, orang yang netral dan orang yang keras.

Orang yang lemah adalah orang yang tidak mempunyai tujuan hidup atau prinsip hidup. Ia tidak tahu untuk apa ia hidup, ia tidak berusaha mengetahui kebenaran di balik fenomena alam ini, sehingga terkadang baik dan buruk dapat dijalaninya. Orang yang netral adalah orang yang mempunyai tujuan dan prinsip hidup, tetapi tidak mengukuhinya dengan terlalu kuat. Ia berusaha mencari kebenaran hidup dan hidup dalam kebijakan dan kebenaran, ia bebas dan netral, tidak kurang dan tidak melampaui,ia berada di tengah-tengah. Orang yang kuat adalah orang yang memegang kuat tujuan dan prinsip hidupnya. Sehingga ia mampu melakukan apa saja demi tercapai tujuannya. Ia terikat oleh filosofinya, ia kuat dan kaku berada di atas pandangannya, ia merasa lebih unggul dari orang lain dan melebihi semua orang. Jika ditinjau dari sisi psikologi. Orang-orang yang di atas juga dapat dikategorikan, seperti orang yang mempunyai jiwa yang lemah, jiwa yang sedang dan jiwa yang kuat. Namun, untuk yang berjiwa sehat, seseorang tidak hanya dilihat dari jiwa lemah, sedang ataupun kuatnya. Penerapan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari itulah yang penting.

Pada dasarnya, tujuan dan prinsip hidup seseorang itu baik dan bersih. Pada saat seseorang dalam keadaan tenang, ia membuat berbagai tujuan dan prinsip dalam hidupnya, namun ketika diterapkan timbul beberapa hambatan dari luar dirinya atau adanya pengaruh dari lingkungan eksternalnya. Salah satu pengaruh terbesar dari luar dirinya adalah panca indera. Panca indera yang tidak terjaga dengan baik akan membuat seseorang terpeleset dari tujuan dan prinsip hidupnya. Telinga bisa mendengar, mata bisa melihat, mulut bisa berbicara. Semua itu harus dikendalikan dengan baik. Sebagai contoh konkret, saya mempunyai tujuan hidup menjadi seseorang yang berguna untuk menolong semua mahluk hidup sampai ajal menemui dan filosofi hidupnya adalah bila ada orang baik kepada saya, maka saya akan baik kepadanya, dan bila ada orang jahat kepada saya, maka saya akan baik juga kepadanya. Dari filosofi hidup ini,jika dilihat dari sisi psikologinya, orang tersebut mempunyai jiwa yang sehat, tidak mendendam dan bahagia menerima hidup.Namun, itu hanyalah sebuah filosofi hidup, yang terpenting adalah bagaimana ia menerapkan dalam perilakunya, apakah bisa sesempurna dengan filosofi hidupnya atau hanya sekedar membuat filosofi hidup tetapi tidak dijalankannya ataupun ia membuat suatu filosofi hidup, namun ia susah menjalannya karena tidak bisa menahan godaan atau hambatan dari luar dirinya.

Sebuah filosofi hidup bisa didapatkan dari seorang pemikir-pemikir jenius yang bijaksana, bebas dan terpelajar. Biasanya orang tersebut dianggap sebagai seorang filsuf, pelopor kebijakan. Masing-masing negara memiliki tokoh filosofinya.Orang pertama yang memperkenalkan filsafat hidup ke dalam ilmu pengetahuan adalahorang Yunani yang kebetulan pada saat itu negaranya merupakan negara yang bebas dalam berkarya. Terbukti begitu banyak para filsuf terkenal kebanyakan dari bangsaYunani, seperti Aristoteles, Plato dan Socrates. Socrateslah yang paling banyak memberi pengaruh kepada dunia ilmu pengetahuan, maka dia disebut Bapak Filsafat. Sedangkan, dari ilmu psikologi, Bapak Sigmud Frued disebut-sebut sebagai Bapak Psikologi yang paling banyak memberikan sumbangsih terhadap ilmu pengetahuan.Kedua tokoh dunia ini sama-sama memiliki pemikiran yang luar biasa untuk menciptakan pengetahuan-pengetahuan mengenai asal usul dari segala sesuatu, meskipun cakupannya berbeda, namun, psikologi dan filsafat tidak bisa dipisahkan dan sebaliknya. Banyak tokoh psikologi yang semula mempelajari filsafat kemudian melanjutkan pengetahuannya ke bidang psikologi. Beberapa kata kutipan yang diambil dari kedua tokoh ini, yakni :

” Makanan enak, baju indah, dan segala kemewahan, itulah yang kau sebut kebahagiaan,namun aku percaya bahwa suatu keadaan di mana orang tidak mengharapkan apa pun adalah kebahagiaan yang tertinggi (Socrates)”.
Dan, ” Mereka yang percaya, tidak berpikir. Mereka yang berfikir, tidak percaya (Sigmud Frued)”.

Disini dapat dilihat, bahwa terjadi suatu studi banding antara kedua ilmu tersebut, Masing-masing membicarakan asal asul segala sesuatu menurut perspektif ilmunya. Namun, dari kedua ilmu tersebut mempunyai suatu kesamaan, bahkan banyak kesamaan yang membahas mengenai asal mulanya sesuatu yang pasti ada hubungannya dengan manusia dan alam sekitarnya.
Seorang Socrates membicarakan kebahagiaan dan seorang Sigmund Frued membicarakan pikiran, tentunya kedua hal ini mempunyai kaitan yang cukup besar. Filosofi hidup yang diberikan oleh Socrates mengenai kebahagiaan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan Ilmu psikologi yang diberikan oleh Sigmund Frued mengenai pikiran (alam sadar atau alam bawah sadar) dapat dijadikan landasan seseorang untuk mencapai kebahagiaan.

Oleh sebab itu, seseorang yang mempelajari psikologi maupun tidak, arus memiliki satu tujuan hidup atau filosofi hidup agar bisa berkembang, dan seseorang yang mempelajari filsafat maupun tidak, harus memperhatikan apakah dan bagaimanakah agar filosofinya dapat diterapkan dengan baik dan benar sehingga mempunyai psikologis/jiwa yang sehat untuk maju dan berhasil.

“Jika seseorang tahu kebenaran yang mendasar tentang segala sesuatu, maka itulah inti pengetahuan’.

Protes ‘Indopahit’ Lewat Kaos Anarkis

March 7th, 2008 by euchan-uchan

Kutipan dari :
terbitan Gatra-Flores
Pos-Kursor Kupang-Suara Perempuan Papua

Oleh Andreas Harsono

T_u_h_a_n_copyKETIKA di Kupang beberapa waktu lalu, saya
sering melihat sebuah kaos warna putih atau hitam dengan tulisan “Timor
Merdeka” yang dipakai aktivis di sana. Alamak! Timor Barat juga ingin merdeka
macam Timor Timur?

Saya beruntung bisa menemui Danny
Wetangterah dari Komunitas Akar Rumput, sebuah organisasi seniman plus aktivis,
yang membuat kaos itu. Wetangterah seorang anak muda, biasa dipanggil DW, umur
28 tahun, papa asal Pulau Alor dan mama Pulau Sabu. Rambutnya pendek. DW juga
pengelola situs web log www.timormerdeka.blogspot.com. Isinya, kebanyakan
berupa renungannya.

DW menerangkan kaos macam begitu, sebut
saja “kaos anarkis,” dibuat untuk menarik perhatian orang. Ia prihatin dengan
berbagai kasus di Nusa Tenggara Timur mulai dari busung lapar, korupsi, gempa
bumi di Alor hingga pengungsi milisi Timor Leste. Ada puluhan ribu pengungsi
tinggal di daerah Bellu dan Kupang.

“Kok pemerintah kurang respons. Kita ingin
menyalurkan kita punya ketidakpuasan,” kata DW. Lalu muncul ide bikin kaos
“Timor Merdeka” pada pertengahan 2004. “Kawan-kawan sangat takut. Maka kita
bikin tambahan ‘Merdeka dari Penindas dan Ketidakadilan Penguasa’.”

Saya tahu bahwa ide “Timor Merdeka,” walau
bukan isu besar, memang bergaung di Kupang, Soe, Atambua dan sekitarnya.
Intinya, bagaimana kalau Timor Barat merdeka dari Indonesia, sama dengan
tetangga mereka di timur, yang lepas dari pendudukan Jakarta pada 2000?
Kesulitannya memang luar biasa namun ide itu ada, ketidakpuasan terhadap
Indonesia cukup besar.

Roby Lay, rekan DW, cerita bagaimana
seorang pemakai kaos ditanyai tentara. “Rupanya dia juga ingin punya,” Lay
tertawa.

Pakaian senantiasa punya makna politik,
dari kebaya Solo hingga peci Acheh, dari sarung Ende Lio hingga batik Melayu,
dari safari ala Jenderal Soeharto hingga jas necis ala Susilo Bambang
Yudhoyono, semuanya punya makna politik. Marshall MacLuhan mengatakan “the
medium is the message.” Medium itu sendiri adalah pesannya.

Kaos anarkis juga pernah saya lihat di
Jakarta. Suatu siang di daerah Pramuka, ada lelaki pakai kaos dengan font besar
“PKI” –tapi jauh lebih kecil di bawahnya tertulis, "Pecinta Kaos
Indonesia." He he he. Bukan "Partai Komunis Indonesia" yang
selama 40 tahun lebih dijadikan hantu dan kambing hitam dalam politik nasional
Jawa.

Di London, sebuah kota yang pernah punya
dua juta orang berdemonstrasi anti-Perang Irak, saya sering lihat kios menjual
T shirt warna putih dengan dua gambar berdampingan. Gambar pertama, President
George W. Bush dengan caption "Bad Bush." Gambar kedua, rambut-rambut
kelamin muncul dari celana dalam perempuan dengan caption "Good
Bush."

Kata "bush" dalam bahasa Inggris
artinya "semak-semak." Jadi, ada “semak-semak yang baik” dan
“semak-semak yang buruk.” Presiden Bush adalah bush yang buruk. Tapi bush yang
baik? Silahkan tafsir sendiri.

Di Papua lain lagi. Saya kira kalau hari
ini ada referendum di Papua, mayoritas orang Papua akan memilih lepas dari Indonesia.
Mereka kebanyakan menganggap Free Act Choice atau Penentuan Pendapat Rakyat
(Pepera) pada 1969 dilakukan dengan manipulasi pihak Indonesia. Mereka juga
kurang puas dengan paket Otonomi Khusus dan pemecahan Papua jadi dua provinsi.
Ini mengingatkan mereka pada politik devide et impera zaman Hindia Belanda.

Tujuan Pepera, sesuai mandat dari United
Nations, adalah melakukan referendum untuk sekitar sejuta warga Papua: ikut
Indonesia atau berdiri sendiri. Namun Indonesia memakai sistem perwakilan dengan
1,025 pemilih saja. United Nations, Amerika Serikat dan masyarakat Barat lain,
menutup mata terhadap manipulasi ini.

Maka wajar bila muncul kaos anarkis. Pada
Mei 2005, di Jayapura ada demonstrasi. Acara diisi dengan pidato-pidato. Saya
senang mendengarkan bahasa Papua. Mereka pakai kata "sa" untuk
"saya" atau "kitorang" untuk "kita orang." Lalu
banyak kalimat Melayu diakhiri dengan akhiran "kah." Di Papua sendiri
ada lebih dari 250 bahasa –sekaligus etnik– sehingga bahasa nasional mereka
tak lain ya Melayu Papua.

Teriakan-teriakan, "Uuuuu uuuuu uuuu
…" terkadang terdengar dalam demonstrasi itu. Teriakan khas orang
Papuakah? Juga sorak-sorai, “Merdeka … Papua merdeka.” Mereka pawai dari
Abepura menuju Jayapura. Jarak lumayan. Hampir semua peserta demonstrasi orang
rambut keriting alias “penduduk asli.”

Seorang perempuan muda Desy, cucu Seth
Rumkoren, seorang tokoh nasionalis
Papua, membacakan pernyataan di depan
anggota-anggota Parlemen Papua. Demonstrasi serupa, menurut beberapa wartawan,
diadakan di Jakarta dan Belanda. Semua menuntut koreksi terhadap sejarah resmi
bahwa rakyat Papua memilih masuk Indonesia.

Ada peserta memakai kaos warna putih
dengan kalimat di punggung, "Jangan bunuh anak-anak Tuhan di negri ini
karena itu Tuhan punya hak. Jangan sembunyikan
sejarah leluhur kami, karena itu
kitorang punya." Ini mengingatkan orang-orang yang membacanya bahwa
terjadi banyak pembunuhan orang Papua oleh aparat Indonesia. Amnesty
International memperkirakan 100 ribu orang Papua mati akibat pendudukan
Indonesia sejak 1969.

Menariknya, saya sempat bertanya siapa
orang yang membuat kaos "Jangan Bunuh" ini?

Tidak ada jawaban pasti namun seseorang
menyebut nama seorang dosen Universitas Cenderawasih. Menariknya, nama itu
adalah nama Jawa! Saya percaya banyak “pendatang” –sebagai antonim dari
“penduduk asli”– ikut memperjuangkan hak
asasi orang Papua. Ini mengingatkan
saya pada pendekar-pendekar hak asasi macam Bambang Widjojanto dan George Junus
Aditjondro, yang berdarah Jawa, yang pada 1970-an and 1980-an bekerja untuk hak
orang Papua di Jayapura.

Ada juga peserta memakai kaos Black
Brothers. Ini kelompok band Papua yang melarikan diri ke Papua New Guinea pada
1979. Dari sana mereka pindah ke Belanda dan mendapatkan kewarganegaraan
Belanda. Pada 1983 dan 1984, mereka ke Vanuatu untuk membantu Organisasi Papua
Merdeka. Belakangan mereka ke Canberra.

Menurut tabloid mingguan Green Left Weekly
dari Sidney, Black Brothers menggunakan musik dan lirik mereka untuk
memperjuangkan hak-hak orang Papua melawan penindasan Indonesia. Band ini
dikatakan sebagai kelompok musik paling penting di kawasan kepulauan Pasifik.

Kaos dan rekaman lagu-lagu Black Brothers tersebar cukup luas di Papua. Saya memotret Joe Maita, satu pemuda Papua dengan kaos Black Brothers. Maita
peternak babi di Abepura. Pesan kaos, "Spirit of the Best: Black
Brothers."

Maka ia pun cerita dengan bangga soal
Black Brothers!

Di Aceh urusan kaos mungkin tidak begitu
menonjol. Di Aceh, orang melawan Jakarta dengan pasang saja gambar bendera
Gerakan Acheh Merdeka. Saya pernah
lihat anak kecil menggambar bendera
Indonesia berdampingan dengan bendera GAM. Saya pernah bergurau dengan beberapa
wartawan di Banda Aceh, kalau bikin kaos macam Danny Wetangterah, mungkin
pesannya begini: “Aceh Merdeka” tapi ditambahi … “Merdeka dari Tsunami.”

Di Pontianak juga ada pula kaos anarkis.
Sapariah, seorang pemudi Madura-Pontianak, menciptakan kaos “Indopahit”
–singkatan dari “Indonesia keturunan Majapahit.” Istilah ini pada mulanya
gurauan saya saat mempelajari ketidakberesan ide-ide soal kebangsaan Indonesia.
Lebih dari itu, bukankah buku pelajaran sekolah tentang "sejarah
nasional" sering melakukan klaim bahwa dulu
ribuan pulau ini (incorrectly)
pernah dipersatukan oleh kerajaan Majapahit dari Trowulan?

“Indopahit, menurutku, itu pilihan kata
yang sangat tepat. Indopahit, negara Indonesia yang penuh kepahitan. Itu fakta
bukan? Negara penuh ketidakgenahan,” kata Sapariah.

Sapariah punya latar belakang yang klop
dengan istilah itu. Banyak orang Madura jadi korban pembunuhan di Kalimantan
sejak 1997. Lebih dari 6,500 orang dibantai tanpa negara Indonesia ini
melakukan suatu tindakan mencegah serta mengadili para pembunuh.

Menurut Jamie Davidson dalam tesis Ph.D.
Violence and Politics in West Kalimantan, Indonesia (Washington University,
Seattle: 2002), bungkus tragedi itu adalah
kerusuhan anti-Madura. Media
mainstream di Pontianak, Palangka Raya, Banjarmasin, Balikpapan dan Samarinda
diisi dengan komentar-komentar rasialis tentang orang Madura, seakan-akan untuk
memberikan legitimasi bahwa orang Madura … boleh dipotong kepalanya!

Orang Dayak dan orang Melayu pun
berlomba-lomba menjadikan orang Madura sebagai kambing hitam dalam rangka
memperkuat posisi etnik masing-masing.
Persaingan terbesar di Kalimantan Barat
sebenarnya terjadi antara orang Dayak dengan orang Melayu. Pembunuhan terbesar
orang Madura terjadi di Sambas pada 1999 (oleh orang Melayu) dan Sampit pada
2001 (oleh orang Dayak).

Negara Indonesia tak banyak menolong.
Davidson menjelaskan dengan teliti bagaimana birokrasi Kalimantan Barat, yang
didominasi orang Melayu, berpangku tangan ketika orang-orang Madura diburu.
Militer kalah jumlah dengan para milisi
Melayu dan Dayak. Namun militer pula
yang menanamkan akar kekerasan ketika mendorong orang Dayak membunuh lebih dari
3,000 orang Tionghoa pada 1967 dengan alasan mereka terlibat komunisme.

Mirip dengan Pancasila, dasar negara
Indopahit, menurut Sapariah, ada lima buah:

1. Hidup KKN

2. Kekerasan is senjata ampuh

3. Anti perbedaan 

4. Pelihara kesengsaraan rakyat

5. Pupuk terus diskriminasi, rasialisme cs.

“Lima dasar negara itu terasa mewakili apa
yang terjadi sekarang,” kata Sapariah. *

 

Aku Hanya Anak Jalanan

May 5th, 2007 by euchan-uchan

Seorang bapak dan ibu menemuiku. Mereka membawa buletin kami yang terbaru. Katanya mereka mendapatkan buletin itu dari temannya. Mereka memuji-muji buletin kami yang mengisahkan kehidupan anak-anak dampingan. Pembicaraan kami berlanjut pada isi buletin. Akhirnya bapak itu mempertanyakan mengapa terjadi banyak pencurian dalam rumah kami. apakah tidak ada cara untuk menghentikan pencurian? Apakah aku tidak melaporkan saja semua itu pada polisi? Mengapa aku masih berusaha melindungi mereka? Mengapa aku masih bertahan dan menampung mereka? Mengapa tidak menutup saja rumah singgah itu dan membuka pelayanan lain?
Pertanyaan-pertanyaan ini sudah sering kudengar.Ini bukan pertanyaan baru lagi. Aku berusaha menjelaskan bahwa pendampingan anak jalanan itu sulit. Sebelum masuk dalam aktifitas ini aku sudah tahu akan resiko yang bakal aku terima selama pendampingan.Mengubah seseorang butuh waktu. Apalagi yang menyangkut nilai dan perilaku. Ini tidak mudah. Butuh proses yang lama dan panjang.Memang gambaranku sebelum masuk itu tidak separah setelah aku menjalaninya selama ini. Banyak kesulitan yang muncul, yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Banyak anak jalanan masih membawa kehidupan jalanan dalam rumah singgah. Akibatnya pencurian, perkelahian dan kehidupan jalanan lain masih sering terjadi dalam rumah singgah.Inilah resiko keputusanku. Bapak itu bertanya apakah aku tidak memilih siapa saja yang boleh tinggal di rumah singgah. Hal ini tidak mudah. Memang beberapa teman juga mempunyai pendapat yang sama yaitu diadakan seleksi anak jalanan. Tapi pertanyaan besar bagiku adalah bagaimana aku bisa memilih anak jalanan yang baik? Secara teori hal itu mungkin dan mudah, tetapi di lapangan tidak semudah apa yang dikatakan dalam teori dan saran-saran.
Akhirnya mereka bertanya mengapa aku bertahan untuk mendampingi anak yang tidak bisa diubah? Pertanyaan ini juga sering muncul dalam diriku sendiri ketika sedang dalam saat putus asa. Mengapa aku harus ada di sini? Mengapa aku mau menyusahkan diri berteman dengan mereka yang tidak bisa diajak berteman? Alasan klasik bagiku adalah bahwa sebetulnya mereka membutuhkan orang yang peduli pada mereka. Jawaban ini bisa menjadi pertanyaan baru, jika mereka membutuhkan orang yang mau menolong, mengapa mereka melakukan perusakan, pencurian dan hal negatif lainnya? Mengapa mereka tidak mau menyadari diri bahwa mereka ditolong lalu ada niat untuk berubah?
Ibu itu bertanya bagaimana jika ada orang tahu bahwa barang yang mereka sumbangkan ternyata hilang dicuri? Ibu itu menyatakan bahwa pasti orang yang memberi itu akan kecewa. Aku katakan bahwa aku juga kecewa. Tapi yang membuatku kecewa bukan barang yang hilang melainkan sikap mencuri barang itulah yang membuatku kecewa. Aku merasa belum mampu mengubah mereka untuk mencintai barang-barang miliknya. Ibu dan bapak itu semakin gencar menyarankan agar aku meninggalkan mereka dan mulai serius di paroki. Masih banyak orang yang membutuhkan pendampingan, mengapa susah-susah mendampingi orang yang tidak mau berubah?
Setelah lama memberikan nasehat, mereka pulang dan meninggalkan aku sendirian dalam pertanyaan-pertanyaan. Benarkan saran mereka agar aku meninggalkan anak-anak dan serius di paroki? Aku sudah disana selama ini dan mereka masih mencuri, berkelahi, ditangkap polisi, membuat rusuh kampung dan tindakan jahat lainnya. Mereka masih tidak bisa berubah. Aku tadi sempat mengatakan bahwa aku mencintai mereka. Namun bapak dan ibu itu mengatakan cinta juga harus rasional. Cinta harus tegas dan kadang memberikan pelajaran agar mereka sadar. Cinta tidak berarti menerima saja segala tindakan buruk. Cinta tidak harus juga mengajar dengan keras. Mereka mengatakan aku aneh jika masih mencintai mereka yang sudah jelas tidak mau membalas cintaku, bahkan sebaliknya hanya menyusahkan saja.
Dalam permenunganku di kamar, aku teringat pada ibuku. Ibu mengajarkan cinta yang tidak rasional. Ibu bukanlah perempuan berpendidikan tinggi. Dia hanya perempuan sederhana produk jaman penjajahan. Tapi aku banyak belajar cinta dari ibu secara nyata. Bukan hanya teori tentang cinta melainkan praktek cinta. Aku ingat bagaimana bapak sering menyalahkan ibu yang bertindak bodoh. Ibu dengan tenang memberi makan orang yang sama sekali tidak dikenal, padahal anak-anaknya banyak dan semua membutuhkan makan yang cukup. Ibu memberikan uang pada orang, padahal uang itu sangat berarti bagi kami. ibu berani meminjami orang uang, padahal tahu bahwa orang ini pasti tidak akan mengembalikan. Dan masih ada lagi tindakan ibu yang dianggap bapak sebagai tidakan yang tidak diperhitungkan akibatnya.
Teringat kembali pada mataku bagaimana bapak suatu hari sangat marah pada ibu soal beras. Suatu hari kota kami kebanjiran, sehingga semua toko dan pasar tutup. Waktu itu ibu hanya mempunyai persedian beras yang cukup dimakan dua hari saja. Pada banjir hari pertama, seorang tetangga datang dan meminjam beras. Bapak sudah memperingatkan agar ibu tidak meminjaminya. Tapi ibu mengatakan bahwa kondisi tetangga itu jauh lebih parah. Memang rumahnya hampir tenggelam, sedang rumah kami hanya sebatas separo lutut anak-anak. Maka ibu membagi beras yang dimiliki menjadi dua bagian dan memberikan pada tetangga itu yang satu bagian. Ternyata banjir tidak cepat surut. Pada esok harinya beras sudah habis dan pasar belum buka. Jelas bapak menjadi marah, sebab tidak ada lagi nasi yang bisa dimakan. Padahal kami semua lapar. Ibu tidak kehilangan akal, maka menumbuk jagung dan kami makan jagung yang sangat sedikit sekali. Aku masih ingat bapak sangat marah dan ibu hanya diam saja. Dia rela dimarahi sebab itu sudah resiko tindakannya untuk menolong tetangga.
Saat itu ibu belum Katolik. Dia hanya bertindah berdasarkan belas kasih bukan berdasarkan ajaran Katolik. Masih banyak tindak cinta ibu yang tidak rasional dan mengakibatkan kerugian bagi kami. Tapi ibu mengatakan bahwa Tuhan tidak tidur. Dia akan melihat apa yang diperbuatnya dengan harapan suatu saat ada orang lain yang akan menolong anak-anaknya. Tindakanku mendampingi anak jalanan beberapa kali dikatakan bodoh. Tapi dalam situasi seperti ini, aku hanya berusaha mengingat tindakan yang pernah diajarkan ibu. Kasih yang tidak perlu memikirkan panjang lebar, soal untung dan rugi, terbalas atau tidak terbalas. Kasih yang harus mengakibatkan kesenggsaraan bagi diri sendiri. Tindak kasih yang hanya berharap bahwa Tuhan akan melihat dan suatu saat membalas pada anak-anaknya.
Permenungan semakin jauh pada pada Yesus. Bagaimana Yesus mengajarkan kasih? Dia juga melaksanakan kasih yang tidak rasional. Dia tahu bahwa akan dibunuh, tapi Dia tetap berjalan ke Yerusalem. Dia tahu bahwa ada murid yang akan mengkhianatinya, tapi Dia tetap membiarkan murid itu melaksanakan kehendaknya. Dia tahu bahwa suatu saat Petrus akan mengkhianati, namun Dia tetap mengangkatnya sebagai pemimpin. Dia menyembuhkan 10 orang kusta dan hanya satu yang mengucapkan syukur, namun Dia tetap melakukan penyembuhan. Dia tidak pernah marah ketika semua orang mengkhianatiNya. Sebaliknya Dia mengampuni mereka. Aku yakin seandainya Yesus punya TV dan dicuri oleh para muridNya, pasti Dia tidak akan marah. Kalau nyawa saja Dia serahkan untuk para murid apakah Dia akan ribut ketika barangnya diminta orang lain?
Aku yakin Yesus sudah tahu resiko yang mengiringi keputusanNya masuk dalam kehidupan manusia. Tapi Dia tetap masuk dan mendampingi manusia. Dia tetap mau menyelamatkan manusia meski banyak manusia yang menolak dan mengkhianatiNya. Dia tetap mencintai manusia meski manusia membalas dengan caci maki dan penyaliban. Dia tetap mencintai manusia meski mereka berulang kali mengecewakanNya. Mereka sudah bersumpah untuk mengikutiNya sampai mati, namun mereka sering mengkhianati sumpah itu seperti Petrus yang mengatakan berani mati demi Dia tapi ketika dihadapkan pada tantangan dia mengaku tidak mengenalNya.
Kusadari bahwa aku tidak ubahnya adalah salah satu anak jalanan dihadapanNya. Aku yang sudah ditampung dalam rumahNya yang kudus masih kerap membawa masuk kehidupan dunia dalam rumahNya. Aku yang sudah dicintaiNya dengan sepenuh hati, masih kerap menyingkirkan Dia dari hidupku. Aku yang sudah ditebus dengan taruhan nyawaNya, masih mudah melakukan tindakan yang melanggar ajaranNya. Tapi Dia tetap menawarkan keselamatan dan pengampunan. Dia tidak bosan mengasihiku dan melindungiku. Dia tidak meninggalkan aku sendirian. Bahkan Dia tetap mencariku ketika aku tersesat dan berusaha membawaku pulang sambil meletakanku di pundakNya. Suatu cinta yang indah dan tidak masuk akal sama sekali.
Kalau Yesus masih mengatakan padaku bahwa Dia mencintaiku, mengapa aku juga tidak bisa mengatakan pada anak dampingan bahwa aku tetap mencintai mereka, meski perbuatan mereka sangat mengecewakan hati? Mengapa aku egois hanya ingin diampuni tetapi tidak mau mengampuni? Mengapa aku harus bosan pada anak-anak jalanan sedang Yesus tidak pernah bosan untuk menerimaku kembali? Mengapa aku harus memilih anak jalanan yang baik-baik, sedang Yesus tidak pernah memilih orang, bahkan Dia sengaja datang untuk aku, orang yang berdosa ini. Orang yang ditolak masyarakat. Kalau Yesus memberiku kesempatan untuk berubah mengapa aku tidak memberi kesempatan anak-anak untuk berubah? Kalau Yesus masih memahami kejahatanku, mengapa aku tidak bisa memahami kejahatan anak-anak ini? Kalau Yesus tidak mau meninggalkan aku mengapa aku harus meninggalkan anak-anak? Aku hanyalah anak jalanan yang ditampung Yesus di rumah singgahNya. Tindakanku sering kali tidak jauh berbeda dengan anak-anakku. Aku tersenyum dan mengambil kunci motor untuk berangkat ke rumah singgah.
…salam, yang nggak tahu kapan mentas dari jalanan